Masa muda merupakan masa sempurnanya pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Ia merupakan nikmat besar dari Allah Ta’ala yang akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat kelak. Karenanya, setiap orang harus memanfaatkannya secara optimal dalam amal shaleh guna meraih ridha Allah SWT. Di saat yang sama, masa muda juga penuh dengan godaan untuk memperturutkan hawa nafsu. Seorang pemuda banyak mengalami gejolak pikiran dan jiwanya, yang membuatnya mudah terjerumus ke dalam keburukan dan kesesatan yang dibisikkan setan.
Di sinilah tampak jelas peran besar agama Islam. Sebagai petunjuk yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada umat manusia, Islam dapat menjadi pedoman untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup manusia di dunia dan akhirat.
Banyak ayat al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW yang mengajarkan agar membina dan mengarahkan para pemuda kepada kebaikan. Karena jika mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah, dan generasi tua akan digantikan dengan generasi muda yang shaleh, insya Allah.
Karakter pemuda ideal dalam al-Qur’an
Karakteristik pemuda telah di sebutkan dalam al-Qur’an dan hadis. Pemuda dalam al-Qur’an disebut dengan fatan. Misalnya pada surah al-Anbiya ayat 60 tentang pemuda Ibrahim dan pada surah al-Kahfi ayat 13 tentang para pemuda Ashabul Kahfi. Dalam hadis, pemuda sering disebut dengan kata syab. Misalnya dalam sebuah hadis riwayat Bukhari yang menyebutkan bahwa di antara tujuh kelompok yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat adalah pemuda yang tumbuh berkembang dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Imam Abul ‘Ula al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi berkata: “Dalam hadis ini, Rasulullah SAW mengkhususkan penyebutan seorang pemuda karena usia muda adalah masa yang berpotensi besar untuk didominasi oleh nafsu syahwat, disebabkan kuatnya pendorong untuk mengikuti hawa nafsu pada diri seorang pemuda. Maka, dalam kondisi seperti ini untuk berkomitmen dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah tentu lebih sulit. Dan ini menunjukkan kuatnya ketakwaan dalam diri orang tersebut.”
Generasi muda di zaman Nabi SAW
Dalam perjalanan sejarah, para pemuda selalu memainkan peranan penting di tengah masyarakatnya. Merekalah yang menjadi tonggak kebangkitan dan kekuatan masyarakat. Demikian pula dalam sejarah Islam. Jika kita telusuri sejarah kebangkitan Islam maka akan kita temukan banyak sekali sosok pemuda luar biasa yang keteladanannya patut dijadikan sebagai contoh. Keberadaan mereka tentu tidak lepas dari bimbingan langsung dari uswah terbaik sepanjang masa, Rasulullah SAW.
Sebagai contoh, sebut saja Ali bin Abu Thalib RA. Cerita tentang keberanian Ali banyak dimuat dalam buku-buku sejarah. Perannya begitu besar dan menentukan, sejak dakwah masih di fase Mekkah hingga Madinah. Ali selalu tampil di barisan depan dalam banyak peperangan penting, mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, Fathu Mekkah, Hunain dan lain sebagainya. “Jangan memulai mengajak berduel, tapi jika ditantang jangan mundur,” begitulah pesan moral luhur sepupu Nabi SAW tersebut.
Setiap diserahi pimpinan pasukan, Ali selalu mengingatkan anak buahnya agar jangan sekali-kali balas dendam, membunuh musuh dari belakang, dan membunuh musuh yang sedang luka parah. Ia sendiri memang tidak pernah membunuh musuh yang sudah luka parah dan memerintahkan pasukannya untuk tidak membunuhnya.
Banyak sekali akhlak yang terpuji pada diri Ali. Ia sangat pemberani sebagai pemuda. Di medan perang, dalam banyak pertempuran, Ali sering diserahi bendera Nabi. Dalam perang Khaibar, misalnya, Ali mendapat kehormatan membawa bendera komando untuk melumpuhkan kekuatan Yahudi. Sungguhpun begitu, ia sangat lemah lembut terhadap siapa pun, tekun menerima pelajaran Nabi, banyak senyum, dan berkata dengan tutur bahasa yang manis dan fasih. Banyak hal yang diajarkan Rasulullah kepada Ali RA.
Suatu ketika Rasulullah bertanya kepadanya, “Ali, maukah jika aku mengajarkan kepadamu perangai yang berlaku dari dulu dan sekarang?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab Ali. Rasulullah kemudian berkata,
“Berilah orang yang pelit kepadamu, maafkanlah orang yang menzalimimu, dan sambunglah hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu.”
Rasulullah SAW juga mengajarkan kepadanya, “Siapa mempekerjakan tenaga buruh lalu berbuat zalim kepadanya, dan tidak memenuhi upahnya, akulah musuh orang itu di hari kiamat.”
Riwayat lain menyebutkan bahwa beliau berkata, “Siapa mampu menahan nafsu amarah dan melaksanakannya, Allah akan menggantinya dengan keimanan dan keamanan.”
Sosok lain yang patut menjadi contoh adalah orang terdekat dengan Ali, yaitu istrinya sendiri yang juga putri kesayangan Rasulullah SAW, Fatimah az-Zahra. Fatimah adalah anak perempuan ke empat pasangan Rasulullah dan Ummul Mu’minin Khadijah. Fatimah lahir ketika kaum Quraisy merenovasi Ka`bah. Dalam peristiwa tersebut, secara aklamasi Rasulullah SAW dijuluki al-Amin (orang yang dipercaya). Fatimah memiliki banyak julukan. Selain yang paling masyhur yaitu az-Zahra, Fatimah juga dijuliki ash-Shiddiqah, al-Mubarakah, ath-Thahirah, az-Zakiyyah, ar-Radhiyah, dan al-Murdhiyyah.
Tidak sedikit riwayat yang menegaskan keistimewaan Fatimah di hati Rasulullah. Di antaranya adalah riwayat yang menceritakan ketika Rasul mengajak keluarganya untuk memeluk Islam, dalam khutbahnya yang masyhur Rasulullah memilih menyebut Fatimah di antara putri-putrinya yang lain. Ketika itu beliau berseru, “Ya Fatimah, putri Muhammad, mintalah padaku apa yang kamu mau. Tapi kelak di hadapan Allah, aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu.”
Dalam peristiwa lain, ketika Rasulullah mendengar sebagian kelompok Muslim merasa keberatan anggota keluarganya ada yang dijatuhi hukuman potong tangan karena terbukti telah mencuri, Rasulullah SAW mengeluarkan pernyataan yang sangat tegas: “Apabila Fatimah putri Muhammad mencuri, maka pasti akan aku potong tangannya.” Dua peristiwa ini merupakan bukti begitu dekatnya Fatimah di hati sang ayah.
Apakah dengan demikian Fatimah menjadi anak manja dan besar kepala? Tidak ada waktu bagi seorang putri Rasulullah untuk bermanja. Bayangkan, di usianya yang baru menginjak 12 tahun Fatimah sudah mengalami embargo ekonomi dan sosial kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin dan para pendukungnya. Selama tiga tahun ia mengalami kelaparan yang sangat hebat dan menyaksikan bagaimana kaum Muslimin menderita karena mempertahankan aqidahnya.
Sesaat setelah lepas dari embargo yang zalim itu, Fatimah harus kehilangan dua orang terdekat dalam keluarganya, yaitu Abu Thalib dan yang paling memilukan hatinya, tentu adalah wafatnya sang bunda, Khadijah. Setelah puas menangis dengan penuh kesabaran ia menggantikan posisi ibunya dalam menyiapkan segala keperluan Rasulullah SAW.
Fatimah, sebagaimana disinggung di atas, adalah anak kesayangan Rasulullah. Sering Rasulullah mengatakan: “Fatimah adalah bagian dariku. Apa yang membuatnya marah maka akan membuatku marah pula.” (HR. Bukhari, Turmudzi, Ahmad, dan Hakim).
Sebaliknya, sebagai anak berbakti, Fatimah selalu berusaha untuk melakukan apa yang membuat ayahnya senang. Mengenai hal ini, peristiwa tentang seuntai kalung yang pernah ia kenakan dan membuat sang ayah marah besar, kemudian ia pun menjualnya demi menyenangkan sang ayah, tentu bisa menjadi contoh.
Sebagai anak, Fatimah az-Zahra rela meninggalkan perhiasan bukan karena haram baginya. Ia tahu mengenakan perhiasan itu hukumnya mubah bagi wanita, tapi ketika ia mengetahui ayahnya tidak menyukainya, maka ia rela meninggalkannya.
Pada saat-saat terakhir hidupnya, Rasulullah sempat membisiki az-Zahra bahwa ia menjadi pemimpin wanita ahli surga. Kesabaran dan keridhaannya dalam menerima apa yang diberikan Allah lah yang membuatnya pantas menyandang gelar wanita terbaik.
Setiap Muslimah mesti belajar dari kepribadian putri Rasulullah ini. Mereka harus menjadikannya sebagai figur dan teladan hidupnya. Tentu masih banyak sekali sosok muda-mudi di masa Rasulullah SAW yang pantas menjadi panutan. Karena mereka pernah hidup bersama Rasulullah dan belajar langsung dari beliau. Merekalah pemuda-pemudi yang bisa menjadi motivasi bagi kita untuk memperbaiki diri.
Kita harus belajar kepada mereka. Terlebih lagi dalam berakhlakul karimah baik kepada Allah maupun dalam muamalah dengan sesama manusia (hablun minallahi wa hablun minannas). Merekalah para pemuda yang memiliki keimanan kuat yang dihiasi dengan akhlak yang baik. Generasi muda hari ini adalah para pemeran utama di masa mendatang, dan mereka adalah pondasi yang menopang masa depan umat ini. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Sumber : http://www.majalahgontor.net/index.php?option=com_content&view=article&id=597:pemuda-di-zaman-nabi-saw&catid=67:dirasah&Itemid=129

0 komentar:
Posting Komentar